“Yesterday is history.. Tomorrow is mystery.. but today is a gift. That’s why we call it present”


If I Were You…
August 12, 2008, 7:35 am
Filed under: Teknik Industri

Hari Minggu yang lalu saya mengunjungi Bogor. Ada kenalan yang menikah. Karena suatu dan lain hal, saya dan teman-teman saya memilih menggunakan Bus dari terminal Leuwi Panjang. Naik bus ini lebih dipilih karena qta perlu berangkat pagi-pagi sekali, qta pergi di hari Minggu (di mana travel2 udah pada penuh) juga qta beramai-ramai (yaa… berempat lah. hehe..). Tidak lupa, faktor biaya juga jadi pertimbangan. hehe…

Sesampainya di terminal, seperti biasa, banyak orang-orang (calo or apapun namanya..) “menarik-narik” kami.

A, Bekasi,A” atau “Sukabumi.. Sukabumi” atau “Kamana A? Tasik? Naik yang yang ini tah

Riweuh…

Akhirnya kami menunggu dulu di sebuah ruang tunggu yang disediakan khusus untuk calon penumpang Bus Primajasa dan MGI (Beneran, lucu banget deh ada “ruang tunggu”nya). Ga terlalu nyaman, tapi lumayan buat duduk. Ada tempat duduk dari besi, beratap, dan ada TV, meskipun cuma satu warna (ini juga beneran. TV 1 warna.. biru doank). Dari kejauhan saya memperhatikan tingkah polah para calo (apapun namanya) tadi. Secara emosi saya kesal sekali melihat tingkah mereka.. Setiap penumpang yang berada di sekitar Bus, selalu dikerubungi dan “ditarik-tarik”. Apalagi banyak diantara calo (apapun namanya) itu yang sudah “cukup umur” alias mempunyai rambut putih yang mengintip dari kepalanya.

Saya bilang ke teman-teman saya, “Mereka dibayar berapa untuk setiap kepala yg masuk ke Bus mereka? Koq segitu keukeuh-nya nawarin orang? Qta -para calon penumpang- malah jadi merasa annoying

Seorang teman saya langsung menjawab, “Untung qm ga perlu kayak gitu…”

Singkat. Tapi sangat dalam…

Emosi saya langsung hilang. Saya terdiam. Lalu kemudian saya mengiyakan.

Untung qm ga perlu kayak gitu…

Untung qta tidak perlu seperti itu. Alhamdulillah saya tidak perlu berteriak-teriak seperti mereka semacam: “A, Bekasi,A” atau “Sukabumi.. Sukabumi” atau “Kamana A? Tasik? Naik yang yang ini tah”…

Mungkin mereka melakukan itu tidak karena keinginan mereka. Mungkin mereka terpaksa. Mereka butuh biaya agar bisa terus bertahan hidup. Mungkin dengan menjadi calo (apapun namanya) inilah mereka bisa terus survive. Meskipun banyak penumpang -seperti saya ini- yang merasa terganggu dengan mereka.

Alhamdulillah saya tidak perlu seperti mereka. Mungkin buat temen-temen yg baca tulisan ini, qta bisa sama-sama bilang, “Alhamdulillah qta ga perlu seperti mereka”

Mungkin qta sering kurang empati dengan orang lain. Qta langsung men-judge orang berdasarkan output yang dihasilkannya, tanpa melihat proses yang menyebabkan output itu terjadi. Padahal sebenarnya, hasil itu ada karena adanya proses yang menyertainya.

Mudah-mudahan qta bisa lebih berempati lagi kepada orang lain. Ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Siapapun orang lain itu. Sopir angkot, penjual makanan, pengamen, pekerja bangunan dan sebagainya. Terutama orang-orang yang tidak seberuntung qta…


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: