“Yesterday is history.. Tomorrow is mystery.. but today is a gift. That’s why we call it present”


Metode vs Alat
June 21, 2009, 8:43 pm
Filed under: Adi Menulis, Teknik Industri

Teknologi saat ini sucah sedemikian maju. Peralatan mekanik, elektrik, dan elektronik sudah semakin canggih. Kemajuan ini secara umum memberikan dampak yang positif bagi kemajuan peradaban manusia.

Namun, yang patut menjadi perhatian adalah: kemajuan manusia disebabkan oleh adanya metode yang efektif dan kemudian didukung oleh peralatan yang baik. Bukan sebaliknya. Thats the key!

Manusia bisa hidup karena adanya metode. Manusia mencari cara agar tetap hidup; mereka merancang metode / teknik bercocok tanam dan berburu. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan sejumlah alat bantu, seperti senjata, traktor, dan sebagainya.

Ketika seseorang ingin membangun gedung, mereka memikirkan tentang metode cara membangun gedung dengan kokoh. Setelah berhasil menemukan metode, mereka mencari alat yang dapat membantu membuat gedung dengan kokoh, misalnya menggunakan pengaduk semen otomatis, dan sebagainya.

Begitu pula dengan berkomunikasi, manusia akan mencari metode berkomunikasi, misalya lewat surat via merpati (utk komunikasi jarak jauh).  Lalu kemudian mencari cara yang lebih memudahkan mereka, seperti e-mail.

Ketika seseorang ingin menebang pohon, orang itu berpikir CARA terbaik menebangnya. Setelah selesai memikirkan caranya, baru ia akan memilih alatnya. Namun jika ia memilih alatnya duluan, bisa dipastikan pohon tersebut akan sulit ditebang.

Begitu juga dalam konteks perusahaan. Perusahaan yang ingin maju, misalnya, akan memikirkan CARA untuk memperoleh keuntungan. Setelah itu barulah ia memikirkan alatnya, misalnya menambah mesin, peralatan, dan sebagainya.

Technology supports methods; not vise versa

*a message from methods engineer



Study about Fatigue…
March 5, 2009, 1:00 pm
Filed under: Ergonomi, Teknik Industri

100_2773Postingan saya tentang TRIP TO KALTIM beberapa waktu lalu sempat mendapat tanggapan dari seseorang yang mampir di blog saya. Dia ingin mengetahui tentang studi kelelahan kerja yang kami lakukan di sana. Mudah-mudahan ini bisa memberikan gambaran secara umum mengenai studi yang telah kami lakukan di sana. Mohon maaf, karena ada masalah teknis -error2 gitu-, comment yang masuk ga bisa ter-publish.

Studi yang kami lakukan di sana adalah untuk mengevaluasi implementasi shift kerja 12 jam/hari bagi pekerja lapangan di suatu perusahaan tambang di Kaltim. Sebelumnya, perusahaan ini telah bertahun-tahun menerapkan sistem shift kerja 8 jam/hari. Karena adanya kebijakan peningkatan kapasitas produksi, maka manajemen mencoba mengimplementasikan shift kerja 12 jam/hari agar kapasitas produksi dapat meningkat tanpa menambah sumber daya (manusia, alat, dll) yang ada.

Peningkatan jumlah jam kerja dari 8 menjadi 12 jam ini tampak memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan, yakni peningkatan kapasitas produksi tanpa tambahan sumber daya. Sedangkan bagi karyawan/pekerja, perubahan jadwal jam kerja ini memberikan tambahan pendapatan dan jumlah hari libur. Meskipun demikian, muncul penolakan dari sejumlah karyawan dengan alasan peningkatan kelelahan kerja, kurangnya waktu untuk keluarga, sosialisasi, dll.

Untuk itulah kami diminta oleh manajemen perusahaan tersebut untuk mengevaluasi implementasi shift 12 jam kerja ini.

Fokus utama kami ada 2 aspek: kelelahan dan faktor sosial. Untuk itu, kami berusaha membuat instrumen untuk dapat mengidentifikasi sebanyak-banyaknya faktor terkait kelelahan dan faktor sosial.

Dari sejumlah kriteria kelelahan (insya Allah akan saya bahas pada posting selanjutnya), kami memilih 4 metode evaluasi, yakni berdasarkan:

  • Faktor fisiologis; faktor fisiologis yang dipakai adalah denyut jantung. Secara sederhana, kelelahan akan meningkat seiring dengan kenaikan denyut jantung. Selain itu, ada batas denyut jantung yang direkomendasikan untuk pekerjaan berdurasi tertentu.
  • Tingkat kantuk; kelelahan berasosiasi dengan kantuk yang dirasakan. Salah satu “sinyal” terjadinya kelelahan, adalah meningkatnya kantuk yang dirasakan
  • Tingkat usaha yang dirasakan; tingkat usaha yang dirasakan berasosiasi dengan tingkat kelelahan yang dirasakan
  • Tingkat kelelahan mental; kelelahan mental salah satunya dapat dilihat dari penurunan tingkat konsentrasi.
  • Jumlah kedipan mata; salah satu kriteria objektif dari tingkat kantuk, adalah peningkatan jumlah kedipan mata
  • Studi Medical record; studi medical record ini dilakukan untuk mengetahui pola keluhan kesehatan pekerja dan juga asosiasinya terhadap jumlah jam kerja.

Sedangkan berdasarkan kriteria sosial, kami melakukan beberapa aktivitas:

  • Penyebaran kuesioner; pada kuesioner ini, beberapa informasi yang dapat digali diantaranya mengenai kondisi demografi, kondisi tempat tinggal dan pola tidur; aktivitas sosial; kebiasaan; dan referensi karyawan.
  • Phone interview terhadap keluarga karyawan; hal ini dilakukan untuk mengetahui “suara hati” para keluarga dari karyawan yang bersangkutan (terutama istri, bagi yang sudah menikah) mengenai implementasi jadwal kerja yang baru.

Kira-kira itu adalah gambaran umum studi yang kami lakukan beberapa waktu lalu. Semoga bermanfaat🙂



Dump Truck: GEEDDEEEE BANGEEET..!!!!
February 23, 2009, 1:06 pm
Filed under: Adi Menulis

Waktu saya di Kaltim beberapa waktu lalu, ada beberapa

Salah satu Dumptruck merk Hitachi Euclid

hal yang menarik dan blom pernah saya liat sebelumnya, salah satunya adalah Dump Truck. Dump Truck, entah kenapa disebut sebagai Dump Truck, yang jelas ni truk GEDEEEE BANGEEEET… Nama kerennya sih katanya Off-Highway Dump Truck..

Beberapa dump truck yang saya liat mampu membawa batu bara seberat 300-400 ton sekali jalan. Ga kebayang deh tu Powernya kayak apa😀

100_2762

Tinggi dump truck ini kira-kira 6 – 8 meter ‘kali yaa… kalo dibandingin sama mobil mini-tuck biasa, seperti Mitsubishi Strada atau Ford Ranger, jelas banget perbedaannya. Ga kebayang kalo sampe dump truck-dump tuck ini menggencet mobil-mobil kecil gitu…

Saya sempat nampang di depan salh satu dump truck merk Liebherr, ini perbandingan antara saya dan dump truck tsb…

Saya bersama LIEBHERR 282T



Trip to Kaltim
February 14, 2009, 12:01 pm
Filed under: Adi Menulis

Akhirnya posting lagi… hohohoho….

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat dalam suatu project mengenai studi kelelahan kerja di salah satu perusahaan pertambangan di daerah Kalimantan Timur. Lumayan, jalan-jalan keluar Jawa dan kira-kira selama 8 hari tidur di daerah pertambangan😀 tapi mess-nya enak koq, ada AC dan kamar mandi sendirinya. hehehe.. jangan bayangkan kayak kemping pramuka jaman SD-SMA dulu😀

Tim kami ada 7 orang: 2 orang dosen; 1 orang dokter; dan 4 asisten (yang sangat ingin jalan-jalan. hehehe…) 4 orang asisten itu adalah Eko, Dila, Sevie, dan saya sendiri.

Selama di sana, kami mengukur tingkat kelelahan para pekerja tambang yang bekerja selama 12 jam. Ada 4 aspek yang kami ukur dalam menilai kelelahan, yakni aspek fisiologis, tingkat kelelahan yang dirasakan, tingkat kantuk, dan juga tingkat kelelahan mental. Ga ketinggalan, kami memasang kamera CCTV (gaya euy..) di beberapa dashboard truk untuk mengetahui pola kelelahan bagi para driver truk-truk tersebut. Pokoknya komprehensif lah😉

NB: setelah 10 hari di sana, berat kami nambah 4 kg. hahahahaha…..

Satu hal yang ga pernah dilupakan: FOTO-FOTO

Berangkat... adi-dila-sevie-eko

View Pertambangan

Foto gaya juga tetep ada dong =D

Hohohoho... gaya euy

Hohohoho... gaya euy



Balada papan penunjuk jalan…
December 18, 2008, 12:08 pm
Filed under: Adi Menulis, Gambar Bicara

Papan penunjuk jalan kan fungsinya untuk memberi info mengenai arah jalan kepada para pengguna jalan. Tapi kalo papannya ga keliatan, gimana ya? Bisa-bisa nyasar tuh…

Ini beberapa papan penunjuk jalan yang saya capture di deket kampus dan sekitar rumah. Hhhhm lumayan bikin orang bingung…

Lokasi di Jalan Taman sari, di bawah Flyover Pasupati

Lokasi di Jalan Taman sari, di bawah Flyover Pasupati

Lokasi yang sama dg gambar di atas, tapi dari angle yang berbeda

Lokasi yang sama dg gambar di atas, tapi dari angle yang berbeDi kawasan Simpang Dago Bandung

Simpang Dago, penunjuk jalannya saya zoom

Simpang Dago, penunjuk jalannya saya zoom

Ada lagi..

Di perempatan antara Jl Sulanjana, Jl Dago, dan Jl Diponegoro

Di perempatan antara Jl Sulanjana, Jl Dago, dan Jl Diponegoro

Barangkali ada petugas DLLAJR Kota Bandung yang baca postingan saya ini, ya mohon papan penunjuk jalannya diperjelas lagi. hehehe…

Emangnya petugas DLLAJR sempet baca blog ya? kan mereka sibuk…



Beban Kerja Fisik~Biomekanika
November 28, 2008, 10:02 am
Filed under: Ergonomi, Teknik Industri

Seperti yang udah saya tulis sebelumnya, ada beberapa jenis dalam perhitungan analisis beban kerja, yakni beban kerja fisik, beban kerja mental, dan juga pemanfaatan waktu. Sekarang saya akan membahas tentang beban kerja fisik. Postingan saya mengenai analisis beban kerja secara umum bisa dilihat di sini

Beban kerja fisik (physical workload) merupakan beban yang diterima oleh fisik akibat pelaksanaan kerja. Beban kerja fisik ini diterima oleh tubuh akibat melaksanakan suatu aktivitas kerja. Prinsip dasar dalam ergonomi adalah bagaimana agar Demand < Capacity (bisa dilihat di posting tentang analisis beban kerja), sehingga perlu diupayakan agar beban kerja fisik yang diterima oleh tubuh saat bekerja tidak melebihi kapasitas fisik manusia (pekerja) yang bersangkutan.

Untuk mengetahui mengevaluasi suatu pekerjaan berdasarkan kapasitas fisik manusia dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi biomekanika dan sisi fisiologi. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dll. Sedangkan biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya.

Ada sejumlah faktor resiko ergonomi yang erat kaitannya dengan pembebanan fisik, yakni:

  • Masalah postur kerja yang tidak normal
  • Pekerjaan yang berulang (repetitif)
  • Durasi kerja yang lama
  • Pembebanan statis pada otot
  • Tekanan kontak fisik
  • Getaran
  • Temperatur

Resiko-resiko di atas dapat menyebabkan terjadinya permasalahan ergonomi secara fisik, khususnya yang terkait dengan permasalahan sistema oto-rangka (muskuloskeletal disorder).  Beberapa metode sudah banyak dikembangkan untuk mengevaluasi faktor resiko tersebut yang ada pada suatu pekerjaan.

Beberapa metode yang umum digunakan diantaranya:

  • NIOSH Lifting Guide
  • Rapid Upper Limb Assessment
  • Rapid Entire Body Assessment
  • Quick Expossure Checklist
  • dan sebagainya.

NIOSH Lifiting Guide

NIOSH Lifiting Guide merupakan panduan dalam aktivitas penanganan material (material handling), khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pengangkatan (lifting) dan penurunan (lowering). NIOSH memberikan sejumlah parameter keamanan dalam pelaksanaan aktivitas penanganan material ini. Menurut NIOSH, beban maksimum yang dapat diangkat oleh seseorang pada kondisi “ideal” adalah sebesar 23 kg. Meskipun demikian, seiring dengan menurunnya kondisi ideal tersebut, maka beban yang dapat diangkat akan terus berkurang. Aktivitas pengangkatan akan memberikan resiko cedera jika nilai Lifting Index (LI) > 1. Informasi mendetail tentang penggunaan NIOSH Lifiting Guide ini bisa dilihat di http://www.cdc.gov/niosh/docs/94-110/

Rapid Upper Limb Assessment (RULA)

Metode ini digunakan untuk mengevaluasi postur kerja pembebanan fisik yang diterima oleh tubuh bagian atas (upper limb), diantaranya meliputi leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan badan bagian atas (trunk). Metode ini dikembangkan oleh Prof E.N. Corlett dan Dr L. McAtamney pada tahun 1993.Pekerjaan yang banyak membutuhkan aktivitas pada tubuh bagian atas ini (seperti pekerjaan merakit komponen elektronik, menjahit, merakit komponen manufaktur yang berukuran relatif kecil,  inspeksi, dan sebagainya)  akan sesuai jika dievaluasi dengan menggunakan metode ini.

Untuk jenis pekerjaan yang lebih banyak melibatkan seluruh anggota badan akan lebih baik dievaluasi dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) atau dengan menggunakan Quick Expossure Checklist (QEC).Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Rapid Entire Body Assssment (REBA)

Metode ini relatif sama dengan metode RULA, namun aspek tubuh yang dievaluasi oleh metode ini lebih pada seluruh tubuh.Metode ini dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn McAtamney pada tahun 2000. Pekerjaan yang melibatkan aktivitas seluruh anggota badan bisa dievaluasi dengan menggunakan metode ini. Contoh REBA Checklist dalam bahasa Indonesia saya upload di sini: reba-worksheet1

Quick Expossure Checklist (QEC)

Metode ini selain melibatkan observer sebagai orang yang mengevaluasi pekerjaan, juga melibatkan pekerja yang dievaluasi untuk ikut mengevaluasi pekerjaannya. Evaluasi 2 arah ini selanjutnya akan memberikan hasil evaluasi terhadap suatu pekerjaan.



Analisis Beban Kerja
November 27, 2008, 1:55 pm
Filed under: Ergonomi, Teknik Industri

bebankerjaAnalisis beban kerja merupakan salah satu subbagian dalam melakukan perancangan kerja.  Kenapa beban kerja harus dianalisis?

Dalam ergonomi, prinsip dalam perancangan kerja adalah dengan tetap menjaga agar demand pekerjaan kurang dari kapasitas manusia.

WORKLOAD DEMAND < HUMAN CAPACITY (atau biasa disingkat D<C)

Workload atau beban kerja merupakan usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi “permintaan” dari pekerjaan tersebut. Sedangkan Capacity adalah kemampuan/kapasitas manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi fisik maupun mental seseorang.

Penjelasan sederhananya seperti ini. Misalkan suatu pekerjaan kuli angkut mempunyai “demand” berupa mengangkat 100 karung per hari. Jika pekerja hanya mampu mengangkat 50 karung per hari, berarti pekerjaan tersebut melebihi kapasitasnya.

Seperti halnya mesin,jika beban yang diterima melebihi kapasitasnya, maka akan menurunkan usia pakai mesin tersebut, bahkan menjadi rusak. Begitu pula manusia, jika ia diberikan beban kerja yang berlebihan, maka akan menurunkan kualitas hidup (kelelahan, dsb) dan kualitas kerja orang tersebut (tingginya error rate dsb), dan juga dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja.

Analisis Beban Kerja ini banyak digunakan diantaranya dapat digunakan dalam penentuan kebutuhan pekerja (man power planning); analisis ergonomi; analisis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3); hingga ke perencanaan penggajian, dsb..

bebankerja1

Perhitungan Beban kerja setidaknya dapat dilihat dari 3 aspek, yakni fisik, mental, dan penggunaan waktu. Aspek fisik meliputi perhitungan beban kerja berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia. Aspek mental merupakan perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental (psikologis). Sedangkan pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan pada aspek penggunaan waktu untuk bekerja.

Secara umum, beban kerja fisik dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi fisiologis dan biomekanika. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dll. Sedangkan biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya.

Perhitungan beban kerja berdasarkan pemanfaatan waktu bisa dibedakan antara pekerjaan berulang (repetitif) atau pekerjaan yang tidak berulang (non-repetitif). Pekerjaan repetitif biasanya terjadi pada pekerjaan dengan siklus pekerjaan yang pendek dan berulang pada waktu yang relatif sama. Contohnya adalah operator mesin di pabrik-pabrik. Sedangkan pekerjaan non-repetitif mempunyai pola yang relatif “tidak menentu”. Seperti pekerjaan administratif, tata usaha, sekretaris, dan pegawai-pegawai kantor pada umumnya.

Pembahasan mengenai detail masing-masing jenis beban kerja akan dibahas selanjutnya..🙂