“Yesterday is history.. Tomorrow is mystery.. but today is a gift. That’s why we call it present”


Study about Fatigue…
March 5, 2009, 1:00 pm
Filed under: Ergonomi, Teknik Industri

100_2773Postingan saya tentang TRIP TO KALTIM beberapa waktu lalu sempat mendapat tanggapan dari seseorang yang mampir di blog saya. Dia ingin mengetahui tentang studi kelelahan kerja yang kami lakukan di sana. Mudah-mudahan ini bisa memberikan gambaran secara umum mengenai studi yang telah kami lakukan di sana. Mohon maaf, karena ada masalah teknis -error2 gitu-, comment yang masuk ga bisa ter-publish.

Studi yang kami lakukan di sana adalah untuk mengevaluasi implementasi shift kerja 12 jam/hari bagi pekerja lapangan di suatu perusahaan tambang di Kaltim. Sebelumnya, perusahaan ini telah bertahun-tahun menerapkan sistem shift kerja 8 jam/hari. Karena adanya kebijakan peningkatan kapasitas produksi, maka manajemen mencoba mengimplementasikan shift kerja 12 jam/hari agar kapasitas produksi dapat meningkat tanpa menambah sumber daya (manusia, alat, dll) yang ada.

Peningkatan jumlah jam kerja dari 8 menjadi 12 jam ini tampak memberikan sejumlah keuntungan bagi perusahaan, yakni peningkatan kapasitas produksi tanpa tambahan sumber daya. Sedangkan bagi karyawan/pekerja, perubahan jadwal jam kerja ini memberikan tambahan pendapatan dan jumlah hari libur. Meskipun demikian, muncul penolakan dari sejumlah karyawan dengan alasan peningkatan kelelahan kerja, kurangnya waktu untuk keluarga, sosialisasi, dll.

Untuk itulah kami diminta oleh manajemen perusahaan tersebut untuk mengevaluasi implementasi shift 12 jam kerja ini.

Fokus utama kami ada 2 aspek: kelelahan dan faktor sosial. Untuk itu, kami berusaha membuat instrumen untuk dapat mengidentifikasi sebanyak-banyaknya faktor terkait kelelahan dan faktor sosial.

Dari sejumlah kriteria kelelahan (insya Allah akan saya bahas pada posting selanjutnya), kami memilih 4 metode evaluasi, yakni berdasarkan:

  • Faktor fisiologis; faktor fisiologis yang dipakai adalah denyut jantung. Secara sederhana, kelelahan akan meningkat seiring dengan kenaikan denyut jantung. Selain itu, ada batas denyut jantung yang direkomendasikan untuk pekerjaan berdurasi tertentu.
  • Tingkat kantuk; kelelahan berasosiasi dengan kantuk yang dirasakan. Salah satu “sinyal” terjadinya kelelahan, adalah meningkatnya kantuk yang dirasakan
  • Tingkat usaha yang dirasakan; tingkat usaha yang dirasakan berasosiasi dengan tingkat kelelahan yang dirasakan
  • Tingkat kelelahan mental; kelelahan mental salah satunya dapat dilihat dari penurunan tingkat konsentrasi.
  • Jumlah kedipan mata; salah satu kriteria objektif dari tingkat kantuk, adalah peningkatan jumlah kedipan mata
  • Studi Medical record; studi medical record ini dilakukan untuk mengetahui pola keluhan kesehatan pekerja dan juga asosiasinya terhadap jumlah jam kerja.

Sedangkan berdasarkan kriteria sosial, kami melakukan beberapa aktivitas:

  • Penyebaran kuesioner; pada kuesioner ini, beberapa informasi yang dapat digali diantaranya mengenai kondisi demografi, kondisi tempat tinggal dan pola tidur; aktivitas sosial; kebiasaan; dan referensi karyawan.
  • Phone interview terhadap keluarga karyawan; hal ini dilakukan untuk mengetahui “suara hati” para keluarga dari karyawan yang bersangkutan (terutama istri, bagi yang sudah menikah) mengenai implementasi jadwal kerja yang baru.

Kira-kira itu adalah gambaran umum studi yang kami lakukan beberapa waktu lalu. Semoga bermanfaat :)



Beban Kerja Fisik~Biomekanika
November 28, 2008, 10:02 am
Filed under: Ergonomi, Teknik Industri

Seperti yang udah saya tulis sebelumnya, ada beberapa jenis dalam perhitungan analisis beban kerja, yakni beban kerja fisik, beban kerja mental, dan juga pemanfaatan waktu. Sekarang saya akan membahas tentang beban kerja fisik. Postingan saya mengenai analisis beban kerja secara umum bisa dilihat di sini

Beban kerja fisik (physical workload) merupakan beban yang diterima oleh fisik akibat pelaksanaan kerja. Beban kerja fisik ini diterima oleh tubuh akibat melaksanakan suatu aktivitas kerja. Prinsip dasar dalam ergonomi adalah bagaimana agar Demand < Capacity (bisa dilihat di posting tentang analisis beban kerja), sehingga perlu diupayakan agar beban kerja fisik yang diterima oleh tubuh saat bekerja tidak melebihi kapasitas fisik manusia (pekerja) yang bersangkutan.

Untuk mengetahui mengevaluasi suatu pekerjaan berdasarkan kapasitas fisik manusia dapat dilihat dari 2 sisi, yakni sisi biomekanika dan sisi fisiologi. Sisi fisiologis melihat kapasitas kerja manusia dari sisi fisiologi tubuh (faal tubuh), meliputi denyut jantung, pernapasan, dll. Sedangkan biomekanika lebih melihat kepada aspek terkait proses mekanik yang terjadi pada tubuh, seperti kekuatan otot, dan sebagainya.

Ada sejumlah faktor resiko ergonomi yang erat kaitannya dengan pembebanan fisik, yakni:

  • Masalah postur kerja yang tidak normal
  • Pekerjaan yang berulang (repetitif)
  • Durasi kerja yang lama
  • Pembebanan statis pada otot
  • Tekanan kontak fisik
  • Getaran
  • Temperatur

Resiko-resiko di atas dapat menyebabkan terjadinya permasalahan ergonomi secara fisik, khususnya yang terkait dengan permasalahan sistema oto-rangka (muskuloskeletal disorder).  Beberapa metode sudah banyak dikembangkan untuk mengevaluasi faktor resiko tersebut yang ada pada suatu pekerjaan.

Beberapa metode yang umum digunakan diantaranya:

  • NIOSH Lifting Guide
  • Rapid Upper Limb Assessment
  • Rapid Entire Body Assessment
  • Quick Expossure Checklist
  • dan sebagainya.

NIOSH Lifiting Guide

NIOSH Lifiting Guide merupakan panduan dalam aktivitas penanganan material (material handling), khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pengangkatan (lifting) dan penurunan (lowering). NIOSH memberikan sejumlah parameter keamanan dalam pelaksanaan aktivitas penanganan material ini. Menurut NIOSH, beban maksimum yang dapat diangkat oleh seseorang pada kondisi “ideal” adalah sebesar 23 kg. Meskipun demikian, seiring dengan menurunnya kondisi ideal tersebut, maka beban yang dapat diangkat akan terus berkurang. Aktivitas pengangkatan akan memberikan resiko cedera jika nilai Lifting Index (LI) > 1. Informasi mendetail tentang penggunaan NIOSH Lifiting Guide ini bisa dilihat di http://www.cdc.gov/niosh/docs/94-110/

Rapid Upper Limb Assessment (RULA)

Metode ini digunakan untuk mengevaluasi postur kerja pembebanan fisik yang diterima oleh tubuh bagian atas (upper limb), diantaranya meliputi leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan badan bagian atas (trunk). Metode ini dikembangkan oleh Prof E.N. Corlett dan Dr L. McAtamney pada tahun 1993.Pekerjaan yang banyak membutuhkan aktivitas pada tubuh bagian atas ini (seperti pekerjaan merakit komponen elektronik, menjahit, merakit komponen manufaktur yang berukuran relatif kecil,  inspeksi, dan sebagainya)  akan sesuai jika dievaluasi dengan menggunakan metode ini.

Untuk jenis pekerjaan yang lebih banyak melibatkan seluruh anggota badan akan lebih baik dievaluasi dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) atau dengan menggunakan Quick Expossure Checklist (QEC).Rapid Entire Body Assessment (REBA)

Rapid Entire Body Assssment (REBA)

Metode ini relatif sama dengan metode RULA, namun aspek tubuh yang dievaluasi oleh metode ini lebih pada seluruh tubuh.Metode ini dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn McAtamney pada tahun 2000. Pekerjaan yang melibatkan aktivitas seluruh anggota badan bisa dievaluasi dengan menggunakan metode ini. Contoh REBA Checklist dalam bahasa Indonesia saya upload di sini: reba-worksheet1

Quick Expossure Checklist (QEC)

Metode ini selain melibatkan observer sebagai orang yang mengevaluasi pekerjaan, juga melibatkan pekerja yang dievaluasi untuk ikut mengevaluasi pekerjaannya. Evaluasi 2 arah ini selanjutnya akan memberikan hasil evaluasi terhadap suatu pekerjaan.